<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299</id><updated>2011-07-31T00:36:52.062-07:00</updated><category term='Kuliner Sulteng'/><category term='lingkungan'/><category term='Seputar Donggala'/><category term='Wisata Sulteng'/><title type='text'>berbagi informasi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ediwicak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299.post-6036601825613120704</id><published>2010-01-10T00:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T00:22:09.852-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Kabupaten Donggala</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/S0mOFUHt62I/AAAAAAAAAOI/1LG9V06EXiw/s1600-h/Lambang_Kabupaten_Donggala.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 183px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/S0mOFUHt62I/AAAAAAAAAOI/1LG9V06EXiw/s200/Lambang_Kabupaten_Donggala.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425023448096041826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ditaklukan oleh pemerintah Belanda pada Tahun 1904 wilayah Kabupaten Donggala adalah wilayah pemerintahan raja-raja yang berdiri sendiri-sendiri Diantaranya, 1) Kerajaan Palu, 2) Kerajaan Sigi Dolo, 3) Kerajaan Kulawi, 4) Kerajaan Biromaru, 5) Kerajaan Banawa, 6) Kerajaan Tawaeli,7) Kerajaan Parigi, dan 8) Kerajaan Moutong. Struktur pemerintahan kerajaan ini pada dasarnya mempunyai kesamaan, perbedaannya hanya penggunaan istilah bagi perangkat kerajaan menurut bahasa daerah masing-masing.&lt;span class="fullpost"&gt; Pemerintah Hindia Belanda menduduki kerajaan-kerajaan ini setelah mengalami peperangan seperti : perang Sigi Dolo, perang Kulawi, perang Tombolotutu, perang Donggala serta perang-perang kecil lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang diakhiri dengan penandatanganan perjanjian yang dikenal dengan lange verkliring yang kemudian disusul konterverkliring yang intinya penyatuan terhadap kedaulatan pemerintahan Belanda atas wilayah-wilayah kerajaan tersebut. Setelah ditaklukan pada tahun 1904 dijadikan wilayah administratif dengan nama distrik, selain dari distrik yang dinamakan onderdistrik. Gabungan dari beberapa distrik disebut swapraja atau disebut landscap (Zelfs besteweronde landschappen). Untuk mengatur pemerintahan dalam wilayah swapraja ini sebagai pelaksanaan korte verklering, pemerintah Belanda menetapkan peraturan tentang daerah-daerah yang pemerintahan sendiri berlaku sejak tahun 1927 dan diubah pada tahun 1938 dengan nama zelfbestusregelen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya daerah ini sebagian dari wilayah Sulawesi&lt;br /&gt;Tengah dijadikan Afdeling Donggala yang meliputi:&lt;br /&gt;1. Onder afdeling Palu yang terdiri dari:&lt;br /&gt;a. Landschap Kulawi berkedudukan di Kulawi&lt;br /&gt;b. Landschap Sigi Dolo berkedudukan di Biromaru&lt;br /&gt;c. Landschap Palu berkedudukan di Palu&lt;br /&gt;Onder afdeling Parigi terdiri dari:&lt;br /&gt;a. Landschap Parigi berkedudukan di Parigi&lt;br /&gt;b. Landschap Moutong berkedudukan di Tinombo&lt;br /&gt;3. Onder afdeling Donggala terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Landschap Banawa berkedudukan di Donggala&lt;br /&gt;b. Lendschap Tawaeli berkedudukan di Tawaeli&lt;br /&gt;4. Onder afdeling Toli-toli&lt;br /&gt;Pada Tahun 1948 sebagai usaha perluasan di bidang pemerintahan daerah, pemerintah mengirim peninjau ke Sulawesi Tengah (misi Abd. Waris dan Kawan-kawan) untuk mempelajari pembentukan daerah Sulawesi Tengah. Pada akhir 1948 Sulawesi Tengah menjadi satu daerah otonom dengan Ibu Kota Poso. Oleh pemerintah dibentuk dua badan yaitu dewan raja-raja yang diketuai oleh Bestari Laborahima angotanya sebagian besar ditunjuk oleh pemerintah selaku penasihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terbentuknya Sulawesi Tengah maka lembaga-lembaga pemerintah seperti residen, asisten residen, gezag, hebar/kontreleur dihapuskan dan dirubahmenjadi kepala pemerintahan negeri, sedang Landschap menjadi Swapraja. Berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah Tanggal 23 Oktober Tahun 1951 (diubah kembali tanggal 30 April 1952) daerah Sulawesi Tengah kembali menjadi dua wilayah administratif. Sehubungan dengan pembagian ini maka DPRD Sulawesi Tengah pada Tangal 16 November 1951 menyatukan diri bersama dewan pemerintah daerah dan menyerahkan tugas dan kekuasaan kepada Gubernur Sulawesi Tengah dengan surat tanggal 4 Maret 1952 No. 183, pembubaran daerah Sulawesi Tengah dan daerahnya menjadi daerah Swatantara. Berdasarkan peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1952 terhitung mulai Tanggal 12 Agustus 1952 daerah Sulawesi Tengah dibagi menjadi dua kabupaten yaitu :&lt;br /&gt;1. Kabupaten Donggala yang wilayahnya meliputi bekas Onder afdeling Palu,&lt;br /&gt;Donggala, Parigi dan Toli-toli;&lt;br /&gt;2. Kabupaten Poso yang wilayahnya meliputi bekas Onder afdeling Poso, Bungku/Mori&lt;br /&gt;dan Luwuk.&lt;br /&gt;Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1952 di atas juga disertai dengan pembentukan lembaga pemerintah daerah serta badan perlengkapan lainnya yaitu :&lt;br /&gt;1. Pembentukan DPRDS yang didasarkan pada Undang-undang NIT No. 44 Tahun 1950.&lt;br /&gt;2. Pembentukan dinas-dinas yang terdiri dari:&lt;br /&gt;a. Pertanian&lt;br /&gt;b. Kehutanan&lt;br /&gt;c. Perikanan Darat&lt;br /&gt;d. Kehewanan&lt;br /&gt;e. Pengajaran&lt;br /&gt;f. Pekerjaan Umum&lt;br /&gt;g. Kesenian&lt;br /&gt;Selanjutnya berdasarkan undang-undang Nomor 29 Tahun 1953 tentang pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi Tengah, Kabupaten Donggala dibagi menjadi dua kabupaten daerah tingkat II yaitu:&lt;br /&gt;1. Kabupaten Daerah Tingkat II Donggala meliputi Onder Afdeling Palu, Donggala dan&lt;br /&gt;Parigi;&lt;br /&gt;2. Kabupaten Daerah Tingkat II Toli-toli meliputi Onder Afdeling Toli-toli dan Buol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan otonomi daerah, Kabupaten&lt;br /&gt;Donggala disesuaikan dengan perundang-undangan yang berlaku yaitu:&lt;br /&gt;1. Undang-undang nomor 2 Tahun 1984 tentang Pemerintah Daerah&lt;br /&gt;2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah&lt;br /&gt;3. Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah-daerah&lt;br /&gt;Tingkat II di Sulawesi Tengah&lt;br /&gt;4. Penetapan Presiden Nomor 29 Tahun 1959 sebagai perubahan prinsipil dari&lt;br /&gt;Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 khusus mengenai kedudukan Kepala Daerah&lt;br /&gt;5. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah&lt;br /&gt;6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan di&lt;br /&gt;Daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-Nama Bupati Donggala sejak tahun 1951- sekarang&lt;br /&gt;01. Intje Naim Dg. Mamangun 1951-1954&lt;br /&gt;02. Radjawali Mohamad Pusadan 1954-1958&lt;br /&gt;03. Bidin 1958-1960&lt;br /&gt;04. D.M. Lamakarate 1960-1964&lt;br /&gt;05. H.R. Ticoalu 1964-1966&lt;br /&gt;06 .Abd. Azis Lamadjido, SH 1967-1978&lt;br /&gt;07 .Drs. Galib Lasahido 1979&lt;br /&gt;08 .Dr. Jan Mohamad Kaleb 1979-1984&lt;br /&gt;09 .Saleh Sandagang, SH PTH&lt;br /&gt;10 .Drs. H. Ramli Noor 1984-1989&lt;br /&gt;11 .Kol. Inf. B. Paliudju 1989-1994&lt;br /&gt;12. Drs. H. Syahbuddin Labadjo 1994-1999&lt;br /&gt;13 .H. N. Bidja, S.Sos 1999-2004&lt;br /&gt;14. H. Adam Ardjad Lamarauna 2004-2007&lt;br /&gt;15 .Drs. H. Habir Ponulele, M.M 2007- Sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sumber : Donggala dalam angka 2006, BPS Kab. Donggala)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3115434956300957299-6036601825613120704?l=ediwicak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/6036601825613120704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/6036601825613120704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2010/01/sejarah-kabupaten-donggala.html' title='Sejarah Kabupaten Donggala'/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/S0mOFUHt62I/AAAAAAAAAOI/1LG9V06EXiw/s72-c/Lambang_Kabupaten_Donggala.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299.post-6972497990526573898</id><published>2010-01-08T21:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-09T19:52:31.784-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliner Sulteng'/><title type='text'>Resep Sayur Kelor Khas Kaili</title><content type='html'>Uta Kelo/sayur kelor adalah sayur khas tanah kaili (sulawesi tengah), sesuai namanya sayur ini dibuat dari bahan utama daun kelor (moringa sp) dimasak santan dengan beberapa bahan tambahan lainnya. kota palu sangat identik dengan sayuran ini, berikut secara sederhana kami uraikan bahan dan cara pembuatan sayur kelor.&lt;span class="fullpost"&gt;Bahan :&lt;br /&gt;500 cc santan sekitar 2 buah kelapa&lt;br /&gt;8 buah pisang kepok muda diiris&lt;br /&gt;5 buah terung diris agak besar&lt;br /&gt;irisan pucuk daun melinjo (bila ada)&lt;br /&gt;1 ons udang halus basah/kering&lt;br /&gt;10 buahcabe rawit (dihaluskan)&lt;br /&gt;Daun kelor muda yang telah di pisah dari tangkai daunnya secukupnya&lt;br /&gt;penyedap rasa&lt;br /&gt;Garam secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;Santan dan cabe rawit dimasak hingga mendidih, kemudian masukkan garam dan pisang kepok, bila sudah mendidi masukkan daun kelor, daun melinjo,terung dan penyedap rasa lalu Aduk hingga merata, bila daun dan terung terlihat lemas dan matang sayur siap diangkat dan siap disajukan. selamat mencoba dan mencicipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dapat disajikan Untuk 10 orang &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3115434956300957299-6972497990526573898?l=ediwicak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/6972497990526573898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/6972497990526573898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2010/01/resep-sayur-kelor-khas-kaili.html' title='Resep Sayur Kelor Khas Kaili'/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299.post-5146347654000126212</id><published>2010-01-08T21:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T21:17:05.574-08:00</updated><title type='text'>Pesona Pasir Putih Tanjung Karang Donggala</title><content type='html'>Tanjung Karang sebuah kawasan pantai yang berada persis di mulut teluk Palu, tiga kilometer sebelah utara dari kota Donggala, sebuah kota Tua di Propinsi Sulawesi Tengah yang menyediakan beragam alternatif pelesiran, mulai dari wisata alam pegunungan, wisata budaya hingga wisata pantai. &lt;span class="fullpost"&gt;Untuk mencapai tanjung karang tidak begitu sulit, dari Palu, Ibukota Propinsi Sulawesi tengah, bisa ditempuh dalam waktu 45 menit, sepanjang perjalanan menuju tanjung karang, wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan indah pantai teluk Palu, teluk yang menjorok dari tanjung karang hingga ke muara Sungai Palu, selain itu anda juga misa menyaksikan aktifitas keseharian masyarakat Banawa, sebuah daerah kecamatan di mana tanjung karang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menginjakan kaki di tanjung karang, mata setiap pengunjung akan langsung tertumbuk pada keindahan pasir putih di sepanjang pantainya, dan warna air laut kebiruan mulai dari tepi hingga ke lepas pantai. Siapapun pasti tidak tahan untuk segera menceburkan diri ke laut, atau langsung duduk di pasir putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penggemar olahraga selam, lokasi ini merupakan “surga” bagi mereka, keindahan terumbu karang Dengan beraneka ragam jenis ikan karang begitu mempesona,“keindahan terumbu karang disini sangat luar biasa, apalagi memang terdapat aneka jenis ikan karang yang berenang disekitar kita, akan menambah kenikmatan saat bertualang di bawah laut “ ujar Udin, salah seorang pengunjung yang mengaku berasal dari Palu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini beberapa cottage yang ada memang menyediakan alat selam, yang bisa disewa, juga kapal pesiar bagi yang ingin menikmati keindahan dunia bawah laut melalui kotak kaca di lambung kapal, atau bisa juga menyewa perahu motor milik warga setempat sebagai alternativ jika hanya ingin sekedar menikmati suasana laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak memiliki dana cukup, bisa juga menyewa perlengkapan snorkeling kepada warga setempat yang memang membuka lapak-lapak penyewaan alat-alat snorkeling dan pelampung sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan tanjung karang yang menarik pengunjung baik lokal maupun luar, menjadi berkah dan lahan usaha bagi warga setempat, tengok saja warung-warung sepanjang pantai miliki warga setempat selalu dipenuhi para pembeli khususnya pada saat-saat liburan. Aneka jenis makanan tersedia disini, mulai dari hidangan menu laut hingga penganan kecil, bagi anda yang menggemari makanan lokal juga tersedia, seperti burasa, gogos dan sebaginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda bermaksud berlibur bersama keluarga atau relasi bisnis, tersedia banyak cottage disini,harganya pun beragam dari tiga puluh lima ribu, hingga seratus ribu rupiah permalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski menyimpan potensi yang begitu besar, perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap objek wisata ini belum terlihat, fasilitas-fasilitas pengunjung, penataan, dan pengelolaan yang ada masih sangat minim, karenanya, Andi Anwar salah seorang aktivis lingkungan di Donggala berharap kepada pemerintah untuk memberikan perhatian lebih besar pada pengembangan potensi tanjung karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berharap pemerintah bisa mengembangkan pariwisata Tanjung Karang, dengan mengembangkan sebuah konsep pengelolaan pariwisata yang mengedepankan potensi alamiah dan partisipasi warga setempat, dengan memberikan fasilitas dan pengetahuan pengelolaan kepada warga, sehingga warga benar-benar menjadi pelaku sekaligus penikmat manfaat ekonomi dari aktifitas pariwisata itu sendiri, bila ini dilakukan ini akan mengerakan ekonomi setempat” tegas Andi. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3115434956300957299-5146347654000126212?l=ediwicak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/5146347654000126212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/5146347654000126212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2010/01/tanjung-karang-sebuah-kawasan-pantai.html' title='Pesona Pasir Putih Tanjung Karang Donggala'/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299.post-3051473375962128892</id><published>2010-01-08T21:10:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T21:13:15.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata Sulteng'/><title type='text'>Pesona Pusat Laut Dan Keunikannya</title><content type='html'>Donggala seakan tak pernah habis menawarkan tawaran pelesiran menyenangkan, setelah tanjung karang, dan pantai khayalan salubomba, kali ini kita akan mengunjungi pusat laut, sebuah kawasan wisata di bagian banawa tengah, 12 kilometer arah selatan kota Donggala, akses menuju lokasi ini bisa dicapai dari Desa Limboro, Ibukota Kecamatan Banawa Tengah.&lt;span class="fullpost"&gt;Pusat laut dalam bahasa lokal setempat pusentasi, lebih merupakan sebuah sumur alami berukuran raksasa, berisi air asin, tepat di bibir pantai, sumur berdiameter kurang lebih 3 meter ini oleh warga setempat dinamai pusat laut, entah karena model sumur yang menyerupai pusat, mungkin pula karena cerita bahwa dahulunya, apapun yang jatuh kedalam lubang ini, akan ditemukan disebuah pulau pasir (pasi bai) di lepas pantai , keunikan lainnya air dalam sumur ini akan pasang bila air laut surut demikian pula sebaliknya, airnya pun tak pernah keruh meskipun banyak yang berenang di dalamnya, tak ada satu cerita pasti asal usul penamaan ini. Tak apalah, kita tak perlu pusing dengan istilah ini, tujuan kita sesungguhnya untuk menikmati suasana pantai sekitarnya.&lt;br /&gt;Sepanjang pantai di kawasan ini terhampar pasir putih berkilauan, serta air laut kehijauan, sungguh sebuah panorama pantai yang menakjubkan yang akan memanjakan mata kita, akan membuat siapapun yang mengunjungi tempat ini tak tahan untuk segera menceburkan diri ke dalam kehangatan air laut, atau sekedar berebahkan diri diatas pasir putih hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lokasi ini, tersedia beberapa cottage, tarifnya sangat terjangkau bagi anda yang memiliki dana liburan tak seberapa namun ingin beberapa hari menikmati suasana panati yang asri, lokasi yang cukup jauh dari permukiman warga membuat anda sebaiknya menyiapkan segala perlengkapan dan kebutuhan selama berwisata ria di tempat ini. Namun dikesempatan kali ini kita hanya beberapa jam saja, jadi tak perlu menginap.&lt;br /&gt;Anton, salah seorang pengunjung yang di temui mengaku sangat terkesan dengan suasana alam dikawasan ini, “ pantai ini sangat indah, sangat asri dan alami, kesan alami pusat laut sangat kuat terlebih bila kita mengunjungi lokasi ini, bukan pada hari minggu” ujarnya.&lt;br /&gt;Sementara itu, Nawir, seorang pengunjung yang mengaku sering berkunjung ke pusat lau ini, berpendapat, kelebihan pusat laut memang pada kesan alami dan ketengangan Susana sekitarnya, ini yang membuat ia selalu meluangkan waktu liburnya untuk datang ketempat ini bersama kawan-kawannya. Tentu saja kita juga demikian, dan semoga perjalanan kita kali ini berkesan bagi anda semua, sampai bertemu di perjalanan beikutnya untuk mengunjungi lokasi yang lain pula.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3115434956300957299-3051473375962128892?l=ediwicak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/3051473375962128892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/3051473375962128892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2010/01/donggala-seakan-tak-pernah-habis.html' title='Pesona Pusat Laut Dan Keunikannya'/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299.post-2432607406947755504</id><published>2009-12-23T21:57:00.001-08:00</published><updated>2009-12-23T22:54:25.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliner Sulteng'/><title type='text'>Resep Sayur Kelor Khas Kaili</title><content type='html'>Uta Kelo/sayur kelor adalah sayur khas tanah kaili (sulawesi tengah), sesuai namanya sayur ini dibuat dari bahan utama daun kelor (moringa sp) dimasak santan dengan beberapa bahan tambahan lainnya. kota palu sangat identik dengan sayuran ini, berikut secara sederhana kami uraikan bahan dan cara pembuatan sayur kelor&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;500 cc santan sekitar 2 buah kelapa&lt;br /&gt;8 buah pisang kepok muda diiris&lt;br /&gt;5 buah terung diris agak besar&lt;br /&gt;irisan pucuk daun melinjo (bila ada)&lt;br /&gt;1 ons udang halus basah/kering&lt;br /&gt;10 buahcabe rawit (dihaluskan)&lt;br /&gt;Daun kelor muda yang telah di pisah dari tangkai daunnya secukupnya&lt;br /&gt;penyedap rasa&lt;br /&gt;Garam secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;Santan dan cabe rawit dimasak hingga mendidih, kemudian masukkan garam dan pisang kepok, bila sudah mendidi masukkan daun kelor, daun melinjo,terung dan penyedap rasa lalu Aduk hingga merata, bila daun dan terung terlihat lemas dan matang sayur siap diangkat dan siap disajukan. selamat mencoba dan mencicipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dapat disajikan Untuk 10 orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3115434956300957299-2432607406947755504?l=ediwicak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ediwicak.blogspot.com/feeds/2432607406947755504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2009/12/resep-sayur-kelor-khas-kaili_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/2432607406947755504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/2432607406947755504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2009/12/resep-sayur-kelor-khas-kaili_23.html' title='Resep Sayur Kelor Khas Kaili'/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299.post-251894925845482125</id><published>2009-12-20T20:22:00.001-08:00</published><updated>2009-12-20T20:27:51.470-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Donggala'/><title type='text'>Pelabuhan Donggala Riwayatmu Kini</title><content type='html'>Kota Donggala dikenal sebagai kota tua yang kaya akan sejarah, tak heran bila di kota ini tersisa banyak bangunan tua dan bersejarah, satu diantaranya adalah pelabuhan donggala. Menelusuri sejarah pelabuhan Donggala sungguh sangat sulit, selain ketersediaan dokumen yang ada, jarang sekali ada tulisan mengenai Pelabuhan Donggala yang dipublikasikan, tulisan ini hanya mengumpulkan serpihan-serpihan tulisan yang terserak di dunia internet, semoga saja bisa menjadi informasi yang bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Donggala di awal abad 19 perupakan pusat pemerintahan kolonial belanda, setelah Belanda menguasai Sulawesi Tengah pada Tahun 1905, yang ditetapkan berdasarkan pembagian wilayah yang dilakukan oleg Gubernur Jenderal W. Rooseboom di Batavia, dan oleh pemerintah Kolonial belanda Pelabuhan ini dijadikan Belanda sebagai  pelabuhan niaga dan penumpang&lt;br /&gt;Kejayaan pelabuhan donggala kala itu tertulis jelas dalam buku Tenggelamnya  Kapal Van der Wijck milik Buya Hamka, dan Tetralogi Pulau Buru milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer, kedua buku itu menyebut nama Donggala sebagai tempat singgah para pelaut Nusantara dan Mancanegara.&lt;br /&gt;Namun  sejak pelabuhan Donggala dipindahkan ke Pantoloan, kejayaan kota Donggala perlahan memudar, kota yang dahulunya disebut-sebut sebagai kota pelajar, kota niaga perlahan-lahan semakin hilang dari perbincangan dan peta politik nasional bahkan lokal.&lt;br /&gt;Pemindahan pelabuhan ke Pantoloan sangat bernuansa politis saat itu, padahal rencana pemindahan ini telah pernah dilakukan oleh pemerintah colonial belanda, kala itu Belanda memindahkan pelabuhan Donggala ke Pantoloan. Tapi lalu mereka kembali lagi ke Donggala. Pertimbangan kembalinya  lagi ke Donggala adalah karena mereka memergoki data-data gempa yang diteliti oleh Sarasin bersaudara pada tahun 1901.&lt;br /&gt;Memang cukup berat gempa di pantai selat Makassar, yang terkeras pernah mencapai angka 7 pada Skala Richter yang berangka 8. Dengan getaran setinggi angka 7 tersebut, ombak yang ditimbulkan gempa dapat dengan mudah menggilas sekaligus menyapu perumahan di pantai. Direktorat Geologi di Bandung dengan kerjasama USAID memperkuat hasil penelitian Sarasin bersaudara dengan menunjukkan bahwa rata-rata kedalaman pusat gempa di Selat Makassar adalah antara 36--75 km. (majalah tempo 40/V 06 Desember 1975).&lt;br /&gt;Kini pengelolaan pelabuhan Donggala menjadi tanggung jawab PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero),  yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan 18 Kantor Cabang, 2 UPK dan 5 Kawasan  yang tersebar di 10 (sepuluh) propinsi yaitu Propinsi  Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Irian Jaya Barat.&lt;br /&gt;Saat ini status Pelabuhan Donggala berada pada kasta terendah pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo. Klasifikasi pelabuhan dalam wilayah Pelabuhan Indonesia IV dibedakan menurut : a.  Pelabuhan Utama, yaitu Pelabuhan Makassar ; b.  Pelabuhan Kelas I (satu), yaitu Pelabuhan Balikpapan,  Samarinda, Bitung, Ambon dan Sorong ; c.  Pelabuhan Kelas II (dua), yaitu Jayapura, Tarakan, pantoloan, Ternate dan Kendari ; d.  Pelabuhan Kelas III (tiga), yaitu Pelabuhan Nunukan, Parepare, Biak, Merauke dan Manokwari ; e.  Pelabuhan Kelas IV (empat), yaitu Pelabuhan Fakfak dan Gorontalo ; f.  Unit Pelayanan Kepelabuhanan, yaitu UPK Sangatta dan UPK Bontang ; g.  Pelabuhan Kawasan, yaitu Pelabuhan Paotere, Manado, Tolitoli, Donggala dan Bandanaira.&lt;br /&gt;Selama ini sejumlah tokoh pemerintah dan tokoh masyarakat menyuarakan pentingnya pengambila alihan pengelolaan pelabuhan Donggala oleh Pemda.  Padahal Pemerintah kabupaten/kota tidak berhak mengambil alih pengelolaan pelabuhan umum nasional dan internasional yang  selama ini dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia, selama Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang pelaksanaan teknis kepelabuhanan-sebagai dasar hukum dalam pengelolaan teknis pelabuhan-belum diubah atau dicabut, pengelolaan pelabuhan di seluruh Indonesia tetap dilaksanakan PT Pelabuhan Indonesia.&lt;br /&gt;Sejarah pelabuhan Donggala, adalah sejarah kejayaan Kota Donggala.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3115434956300957299-251894925845482125?l=ediwicak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ediwicak.blogspot.com/feeds/251894925845482125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2009/12/pelabuhan-donggala-riwayatmu-kini_20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/251894925845482125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/251894925845482125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2009/12/pelabuhan-donggala-riwayatmu-kini_20.html' title='Pelabuhan Donggala Riwayatmu Kini'/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299.post-2895954069473249354</id><published>2009-12-20T20:04:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T20:07:00.893-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuliner Sulteng'/><title type='text'>Resep Kaledo</title><content type='html'>Kaledo adalah makanan khas kota Palu tak heran bila kota Palu terkadang disebut juga sebagai kota kaledo, hampir semua orang yang pernah berkunjung ke kota Palu pasti pernah mencicipi makanan yang satu ini, belum terasa lengkap kunjungan  ke palu apabila belum mencicipinya, Kaledo  sejenis sup ( makanan berkuah ) tulang sapi  yang bening dengan bumbu cabe rawit yang telah dihaluskan, garam secukupnya dan asam mentah yang terlebih dahulu direbus dan dilumatkan.  Rasa asam dan pedas inilah yang  menjadi cirri khas dari makanan ini.&lt;br /&gt;Sambil  menikmati kaledo, anda bisa menyaksikan keindahan panorama alam teluk palu, hal ini dikarenakan hampir semua rumah makan yang menyajikan kelado berada di bibir pantai teluk palu.&lt;br /&gt;Bila anda telah kembali ke kota anda dan rindu masakan kaledo, atau anda orang palu yang berada di daerah lain dimana tidak ada penjual kaledo berikut secara sederhana kami uraikan resep dan cara pembuatan kaledo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;Daging dan tulang kaki sapi - 1 Kg&lt;br /&gt;Cabe Rawit hijau  10-20  buah (tergantung selera pedas)&lt;br /&gt;Asam jawa yang mentah – 5-7 ruas&lt;br /&gt;Garam secukupnya&lt;br /&gt;Penyedap rasa&lt;br /&gt;Jeruk nipis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Pembuatan :&lt;br /&gt;* daging dan tulang sapi dibersihkan dengan cara dicuci hingga bersih.&lt;br /&gt;* Jerang air secukupnya dalam panci hingga mendidih&lt;br /&gt;* Masukkan daging dan tulang sapi ke dalam panic tersebut, masak hingga daging tersebut  setengah matang dan empuk&lt;br /&gt;* Buang air rebusan daging tersebut dengan cara ditiriskan, kemudian jerang lagi air, setelah itu daging yang telah matang tadi dimasukkan,  hal ini dimaksudkan untuk mengurangi lemak daging pada kuah masakan.&lt;br /&gt; * Setelah air tersebut  mendidih, masukkanlah cabe rawit hijau , asam jawa, penyedap rasa dan garam secukupnya.&lt;br /&gt;* Tutup dan rebuslah kembali hingga daging dan tulang kaki sapi benar-benar matang&lt;br /&gt;* Sajikan dalam keadaan masih panas.&lt;br /&gt;Untuk menambah harum aroma kaledo perlu ditambahkan bawang goreng asli palu dan jeruk nipis.&lt;br /&gt;Kaledo juga akan terasa lebih nikmat apabila disajikan bersama-sama dengan singkong rebus. Selamat mencoba dan menikmati kaledo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3115434956300957299-2895954069473249354?l=ediwicak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ediwicak.blogspot.com/feeds/2895954069473249354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2009/12/reser-kaledo.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/2895954069473249354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/2895954069473249354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2009/12/reser-kaledo.html' title='Resep Kaledo'/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3115434956300957299.post-3898559280365558259</id><published>2009-12-17T21:36:00.001-08:00</published><updated>2009-12-19T23:23:02.962-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lingkungan'/><title type='text'></title><content type='html'>Di pertengahan Desember 2009, saat para pemimpin dunia berkumpul di Copenhagen, Denmark, untuk membicarakan  perubahan iklim dan sejumlah upaya global untuk penyelamatan bumi. Nun jauh di belahan bumi lainnya, berjarak ribuan mil dari tempat konverensi, di sebuah kampung yang sejuk, hijau dan berdengung dengan kehidupan serangga dan suara burung, sekelompok masyarakat  melakukan aktifitas keseharian mereka di tengah-tengah hutan tropis yang menjadi perdebatan alot para pemimpin negara-negara di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah Tau Taa Wana, komunitas masyarakat adat yang mendiami pedalaman hutan di kawasan timur Sulawesi Tengah, berada tepat dibagian tengah dari pulau sulawesi yang berbentuk huruf K, daerah ini merupakan salah satu wilayah di sulawesi yang memiliki kawasan hutan hujan tropis yang luas. Wilayah pegunungan tinggi dan hutan belantara dengan akses transportasi yang sangat terbatas menjadikan kawasan ini rumah bagi masyarakat tradisional yang hingga saat ini menjadikan hutan sebagai sumber kehidupannnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berada disana sebagai seorang relawan sebuah organisasi sosial, membawakan buku-buku hasil sumbangan para donatur untuk perpustakaan komunitas yang dalam bahasa setempat mereka namai banua baca (rumah baca), rumah baca ini bagian dari skola lipu (sekolah kampung), yang didirikan oleh komunitas ini dan dibantu sekelompok aktifis sebagai media belajar aksara dan angka. Ya, fasilitas pendidikan formal dan layanan kesehatan memang belum menjangkau wilayah ini, hanya program penebangan hutan, perkebunan dan pertambangan saja yang hadir disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana lipu/ kampung mereka sangat damai dan asri, pondok-pondok kayu berdiri diatas bukit, dimana setiap pondok memiliki kebun yang terpelihara disekitarnya. Terdapat bunga-bungaan yang ditanam di sisi-sisi  jalan setapak dan rumput yang dipotong dibawah pohon buah-buahan yang nyaris tertutup kabut sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sampai ke pemukiman mereka, terlebih dahulu saya melakukan perjalanan panjang dengan bus sejauh 350 km  dari Palu, Ibukota Propinsi Sulawesi tengah menuju kota Ampana. Dan dilanjutkan perjalanan sepuluh jam dengan menggunakan mobil berpenggerak empat roda, melintasi bukit dan sungai, ditambah berjalan kaki seharian penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan singkat itu, banyak pelajaran berharga yang saya peroleh. Tau Taa Wana selama ini hidup dalam nilai-nilai adat dan kearifan lokalnya yang masih sangat kental. Untuk mengolah hutan beserta isinya, mereka memiliki aturan main sendiri berdasarkan kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun. Bagi mereka Pengelolaan sumberdaya alam adalah sesuatu yang penting dan disakralkan, semuanya dilakukan berdasarkan rasa kasih sayang dan penghormatan kepada alam yang telah memberi kehidupan. Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan dikenai “givu” sangsi adat yang ditegakan secara adil tanpa pandang bulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Taa Wana mengatur empat zona alam disekitar mereka. Zona pertama adalah Pangale yakni hutan belantara yang belum pernah dibuka, kita mengenalnya sebagai Rimba belantara. Zona kedua Pangale Kapali yakni hutan yang tidak boleh diolah dan dibuka oleh siapapun, seperti kawasan Hutan Lindung.&lt;br /&gt;Zona ketiga adalah Yopo, yakni areal tanah olahan atau yang kita kenal sebagai tanah produksi. Sedangkan Zona terakhir adalah Lipu, yakni areal perkampungan. Pola pembagian zona ini telah berlaku sejak lama dalam masyarakat Taa Wana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan adalah rumah mereka, tidak ada kepemilikan lahan secara individual, tidak ada konflik lahan, yang ada hanya aturan adat yang harus dipatuhi semua warga. Lahan dimiliki bersama secara kolektif yang dikenal sebagai tanah ulayat. Kepemilikan yang ada hanya berlaku temporer, pergantian individu yang mengolola lahan  disepakati secara bulat melalui suatu mogombo atau musyawarah adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali keCopenhagen, apakah keberadaan komunitas masyarakat adat yang mendiami kawasan hutan menjadi sebuah pembahasan penting dalam sidang-sidang para wakil Negara-negara yang hadir? Bila tidak,  ada baiknya para pemimpin Negara-negara yang sedang berkonferensi pulang dan belajar lebih dahulu kepada masyarakat adat.Sebab, komunitas adat yang tersebar dihampir seluruh penjuru dunia ini telah menghuni dan mengolah alam dengan aturan-aturanya yang menurut sebagian orang masih primitif. Namun aturan itu terbukti dapat menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan mereka selama berabad-abad. Sedangkan aturan-aturan konstitusi formal Negara, kadang justru sulit untuk berjalan dengan baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3115434956300957299-3898559280365558259?l=ediwicak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ediwicak.blogspot.com/feeds/3898559280365558259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2009/12/di-pertengahan-desember-2009-saat-para_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/3898559280365558259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3115434956300957299/posts/default/3898559280365558259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ediwicak.blogspot.com/2009/12/di-pertengahan-desember-2009-saat-para_17.html' title=''/><author><name>Dunia Petualangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12939965637047047093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Nf6rmx1btIs/Sy8Nosh1t0I/AAAAAAAAAJo/EeSnyuXij-o/S220/profilku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
